Radea Juli A.Hambali (Wakil Dekan III Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung)
Ketika tulisan ini selesai dibuat, tensi benturan 12 hari antara Iran versus Israel diturunkan. Seperti diberitakan oleh berbagai media, Iran dan Israel sepakat untuk melakukan gencatan senjata. Dua belas hari saling bertukar rudal, memang waktu yang singkat namun dampaknya terasa kuat, maka gencatan senjata adalah pilihan yang paling masuk akal. “Pertempuran harus dihentikan. Rakyat kedua negara sudah terlalu menderita,” begitu kata Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres melalui media sosial X.
Konflik Iran versus Israel, harus kita akui, tidak lagi sekadar soal teritori, ideologi, atau agama. Ia telah menjelma menjadi luka terbuka dalam tubuh kemanusiaan, menguji nurani global yang sering kali tumpul di hadapan penderitaan orang lain.
Perang ini, seperti perang-perang lainnya, tak hanya menyisakan puing-puing bangunan atau kehancuran infrastruktur, tetapi lebih dari itu: ia menghancurkan harapan, merobek masa depan anak-anak, dan membisukan jerit perempuan yang kehilangan. Dalam perang, kebenaran menjadi kabur, “Only the dead have seen the end of war,” begitu kata Plato. Di sini, yang menjadi korban bukan hanya yang kalah, melainkan seluruh sisi kemanusiaan kita yang tercabik.
Senyatanya, kita tidak sedang menyaksikan pertempuran antara dua negara saja. Kita sedang menyaksikan betapa nilai-nilai dasar kemanusiaan seperti kasih sayang, empati, dan solidaritas, yang seharusnya menjadi fondasi perdamaian dunia, dihilangkan dari medan percakapan publik. Dalam situasi seperti ini, suara anak kecil yang menangis di bawah reruntuhan tidak kalah lantang dari dentuman roket, tetapi sering kali tak terdengar karena dibungkam oleh narasi besar politik dan propaganda.
Benturan Ego
Martin Buber, seorang filsuf eksistensialis asal Yahudi Austria yang mendalami relasi antar-manusia, pernah menulis dalam I and Thou bahwa “semua kehidupan sejati adalah pertemuan.” Namun dalam perang, tidak ada pertemuan yang otentik; yang ada hanyalah benturan ego, ketakutan yang diwariskan, dan trauma yang disublimasi menjadi kebencian kolektif. Iran dan Israel, yang masing-masing membawa sejarah luka dan ketakutan, telah lupa bahwa di balik baju zirah, di balik kibaran bendera dan jargon nasionalisme, yang tersisa tetaplah manusia, rapuh, terbatas, dan penuh kebutuhan akan kasih.
Ketika rudal ditembakkan, bukan hanya dinding yang runtuh tetapi juga jembatan empati. Seorang anak di Teheran yang melihat ayahnya gugur tidak berbeda dalam rasa sakitnya dengan seorang ibu di Tel Aviv yang kehilangan anaknya karena serangan balik. Jean-Paul Sartre pernah berkata bahwa “hell is other people,” tetapi neraka sesungguhnya adalah ketika kita berhenti melihat ‘yang lain’ sebagai sesama.
Banalitas Kejahatan
Mengapa umat manusia terus mengulang tragedi yang sama? Hannah Arendt menjelaskan dalam Eichmann in Jerusalem tentang banalitas kejahatan, bahwa kekejian bisa lahir bukan dari niat jahat luar biasa, tetapi dari kepatuhan membabi buta pada sistem, birokrasi, dan ideologi. Apakah perang ini adalah bentuk lain dari banalitas kejahatan, di mana pemimpin berbicara tentang martabat, tetapi justru menukar nyawa demi citra politik?
Wajah Orang Lain
Tentu saja, tak mudah membicarakan solusi saat bara dendam membakar rasionalitas. Namun filsafat mengajarkan kita bahwa kontemplasi adalah bentuk perlawanan terhadap kekacauan. Di tengah arus informasi yang saling bertabrakan, kita membutuhkan ruang refleksi untuk menyadari satu hal mendasar: manusia tidak diciptakan untuk saling membunuh. Seperti yang dikatakan Emmanuel Levinas, “Wajah orang lain adalah perintah moral.” Maka ketika kita mampu menatap wajah yang menderita bukan sebagai musuh, melainkan sebagai sesama, di sanalah kemanusiaan kita dipulihkan.
Dengan alasan apapaun, bisa kita pastikan, Perang Iran vs Israel adalah cermin kusam dunia modern yang kehilangan empati kolektifnya. Namun setiap refleksi adalah permulaan. Barangkali kita tak mampu menghentikan rudal, tetapi kita bisa mulai membangun narasi damai, dalam tulisan, dalam pendidikan, dalam doa. Sebab sebagaimana kata Rumi, “perang lahir dari keterpisahan; damai lahir dari kesadaran bahwa kita tak pernah benar-benar terpisah.”
Di akhir setiap perang, selalu ada dua jalan: melanjutkan lingkaran dendam, atau mulai menulis ulang sejarah dengan tinta kasih dan pena pengampunan. Dan di antara keduanya, kita dihadapkan pada pilihan yang tak hanya menentukan masa depan bangsa-bangsa, tetapi juga masa depan kemanusiaan itu sendiri. Allahu a’lam.
Radea Juli A.Hambali (Wakil Dekan III Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung)
