Dari sundulan krusial Maguire hingga gawang Manchester City yang kebobolan hanya dalam 10 detik, Manchester United asuhan Michael Carrick memenangkan derbi dengan struktur, disiplin, dan ketegasan.
Michael Carrick hanya menjalani beberapa sesi latihan bersama skuad Manchester United, tetapi derbi Manchester pada 17 Januari menunjukkan filosofi sepak bola yang jelas. MU tidak membutuhkan penguasaan bola untuk mengontrol permainan. Mereka memilih momen yang tepat, menyerang titik lemah, dan menyelesaikan dengan cepat dan menentukan.
Momen ikonik itu terjadi dalam sekejap. Harry Maguire menyundul bola menjauhi area berbahaya di dalam kotak penalti.
MU langsung melancarkan formasi menyerang mereka. Bola digerakkan ke depan dengan kecepatan tinggi. Tiga operan, ledakan kecepatan, dan gawang Manchester City berhasil ditembus. Sepuluh detik sudah cukup untuk membentuk seluruh jalannya derbi.
Itu bukanlah momen spontan. Itu adalah hasil dari sebuah struktur.
MU memulai pertandingan dengan formasi 4-2-3-1, kemudian beralih ke 4-4-2 saat tidak menguasai bola. Tim mempertahankan jarak antar pemain yang rapat. Saat merebut bola, mereka tidak bertele-tele. Kecepatan menjadi prioritas. Permainan langsung menjadi pilihan. Ketegasan adalah keharusan.
Bruno Fernandes bertindak sebagai “saklar”. Dia memberi isyarat kapan harus menekan dan kapan harus memperlambat.
Kedua pemain sayap adalah ujung tombak. Diogo Dalot dan Amad Diallo sering menemukan ruang di belakang pertahanan lawan. Di lini tengah, Casemiro bekerja dengan tenang namun efektif, mengganggu transisi Manchester City.
Maguire dan Lisandro Martinez mewakili semangat bertahan yang baru. Tanpa perfeksionisme. Tanpa keraguan. Siap melakukan tekel, siap terlibat dalam tantangan fisik. Old Trafford merespons dengan suara yang telah lama hilang dari Manchester United: kepercayaan diri.
Manchester City memang mencoba. Pep Guardiola memasukkan Bernardo Silva dan Rodri ke tengah untuk menenangkan keadaan, dan Rico Lewis bergerak ke tengah untuk menambah jumlah pemain.
Namun tempo permainan yang diterapkan MU membuat City kehilangan arah. Penyelesaian akhir mereka di sekitar kotak penalti kurang tajam. Tidak ada serangan balik yang efektif.
Perlu dicatat bahwa Manchester United menerima tingkat penguasaan bola yang lebih rendah. Angka-angka tersebut tidak serta merta mencerminkan kerugian.
Carrick tidak ingin para pemainnya mengoper bola hanya untuk “mempertahankan tempo.” Ia ingin mereka mengoper untuk menyelesaikan peluang. Pilihan itu membuat Manchester City kesulitan dalam transisi mereka, dan mereka menanggung akibatnya.
Pertandingan derbi tidak bisa menjawab semua pertanyaan. Tapi pertandingan ini memberikan pernyataan. Manchester United bisa bertahan dengan kebiasaan lama: disiplin, organisasi, serangan balik yang tajam. Sepuluh detik tidak hanya menciptakan gol; tetapi juga menciptakan identitas. Dan itulah yang paling dibutuhkan Carrick saat ini.
Penggemar Arsenal Dukung Patung Michael Carrick Didirikan di Depan Stadion Emirates
Para penggemar Arsenal bercanda meminta agar patung Michael Carrick didirikan di luar Stadion Emirates, menyusul kemenangan Manchester United 2-0 atas Manchester City pada pekan ke-22 Liga Inggris 2025/2026, Sabtu 17 Januari 2026.
Arsenal memiliki peluang emas untuk unggul dalam persaingan perebutan gelar Liga Inggris. Terutama, dorongan besar bagi ambisi The Gunners untuk meraih gelar datang dari Old Trafford, ketika Manchester United, di bawah manajer sementara Carrick, mengalahkan Manchester City 2-0.
Debut itu dianggap sebagai laga paling mengesankan yang mungkin bagi Carrick sebagai manajer sementara “Setan Merah”. Dan seketika itu juga, para penggemar Arsenal, termasuk jurnalis terkenal Piers Morgan, membanjiri media sosial dengan seruan-seruan lucu untuk bertindak.
“Bisakah Anda memasang patung Michael Carrick di depan Emirates?”, tulis Morgan. Banyak penggemar menanggapi dengan komentar seperti “Mari kita pasang patung Carrick di depan Emirates,” “Carrick luar biasa,” dan “Kita butuh patung Carrick tepat di pintu masuk stadion.”
Tentu saja, semua orang mengerti bahwa Arsenal mendirikan patung Carrick adalah mimpi belaka, terutama karena mantan gelandang itu pernah bermain untuk rival sekota mereka, Tottenham, selama kariernya. Tetapi reaksi itu jelas menunjukkan bahwa Carrick dipandang sebagai pahlawan yang membantu Arsenal mendapatkan keuntungan signifikan dalam perebutan gelar.
Kemenangan Manchester United ditentukan oleh gol dari Bryan Mbeumo dan Patrick Dorgu. Bagi Arsenal, mereka sangat ingin memenangkan gelar Liga Premier pertama mereka sejak 2003, dan dengan situasi saat ini, mimpi itu menjadi lebih jelas dari sebelumnya.
Pada pertandingan selanjutnya, Arsenal mengecewakan dengan hanya mampu meraih hasil imbang 0-0 melawan Nottingham Forest. Namun, mereka tetap berhasil memperlebar keunggulan atas Man City menjadi tujuh poin.
